Thursday, July 14, 2016

20 Cara Agar Tidak Gampang Lupa

0

20 Cara Agar Tidak Gampang Lupa

Tadi kunci mobil diletakkan di mana ya? Tadi oven sudah dimatikan belum ya? Eh pintu rumah sudah dikunci belum?
Jika Anda biasa melontarkan beberapa pertanyaan di atas kepada diri sendiri, alias seorang pelupa, berikut ini 20 langkah memperbaiki daya ingat.

1. Padatkan

Ketika mengingat-ingat deretan huruf yang panjang seperti 33987643134509, pecahkanlah menjadi: 33 98 76 43 13 45 09.

2. Jangan menjejalkan

Lebih baik memberi ruang pada proses belajar. Contohnya, ketika Anda belajar bahasa asing, jangan mengulang satu kata terus-menerus. Demikian saran dr Chris Moulin dari Leeds Memory Group. Ulangi beberapa kali, dan kemudian lanjutkan lagi, dan kembali lagi nanti.

3. Ciptakan petunjuk

Jika anda mempunyai kegiatan teratur setiap hari pada waktu tertentu, seperti minum obat, berilah petunjuk diri anda sendiri untuk menolong niatan anda tersebut. Misalnya: “Ketika acara TV ini selesai aku akan meminum obat.”

4. Gunakan gambar

Satu cara untuk mengingat sesuatu, seperti nama orang, adalah menggambarkan wajah mereka. Jadi ketika anda bertemu Joe Diamond, bayangkan sebuah intan (diamond). Anda harus lebih kreatif untuk menggambarkan nama orang dengan nama yang tidak biasa.

5. Buat lebih bermakna

Gunakan arti khusus untuk mewakili sebuah fakta atau angka, jika Anda perlu mengingat angka 50110662012, pikirkan jins Levi's, Perang Hastings, atau Olimpiade London.

6. Buatlah lebih pribadi
Buatlah sesuatu yang ingin kamu ingat berhubungan dengan diri anda  sendiri. Itu pertolongan mengingat yang plaing baik. Contohnya Blair mulai berkuasa pada tahun 1997, kamu lulus tahun 1997.

7. Metode Kamar Roma

Metode Kamar Roma adalah tentang mengingat rangkaian informasi dengan memvisualisasikan mereka ke dalam sebuah lokasi. Gunakan tempat yang kamu tahu dengn baik, lakukan perjalanan pikiran melewati kamar dalam tatanan yang teratur. Kemudian letakkan informasi dari daftarmu satu per satu ke dalam setiap kamar.
Jadi ketika ingin mengingat Perdana Menteri, tempatkan Harold Wilson di lorong, James Callaghan di ruang keluarga, Margareth Thatcher di dapur dan seterusnya. Pikirkan itu pelan-pelan dan itu akan terus menempel.

8. Rutinitas

Rutinitas yang membosankan adalah teman terbaik ingatan. Letakkan barang-barang tersebut di tempat yang sama di waktu yang lama. Semakin terbiasa, semakin mudah Anda mengingat.

9. Menghafal

Menghafal adalah teknik pembelajaran yang menolong daya ingat - seperti 'Mejikuhibiniu' untuk mengingat warna pelangi. Gunakan frasa untuk mengingat hal, semakin aneh semakin baik.

10. Makan ikan berlendir

Minyak Omega-3 yang ada pada ikan berlendir, dapat membantu kekuatan Anda berkonsentrasi.

11. Konsumsi choline

Choline, asam amino yang ada pada telur, hati, ayam dan kedelai, dapat menjaga otak dan meningkatkan daya ingat. Penelitian terbaru menunjukkan, orang dengan konsumsi choline yang tinggi berhasil menyelesaikan tes daya ingat dengan lebih baik — walau diet kesehatan jangka panjang adalah kunci utama untuk menjaga fungsi otak yang baik, dengan sayuran hijau, buah beri, tomat, kacang dan kecambah adalah makanan yang baik untuk daya ingat.

12. Olahraga
Sebuah penelitian Cambridge University menyebutkan, latihan aerobik teratur seperti jogging dapat meningkatkan daya ingat dengan memicu pertumbuhan neuron baru di otak.

13. Mengajar
Mengajari konsep baru pada orang lain bisa membantu ingatanmu pada hal tersebut. Jadi berikan mata kuliah kecil untuk teman anda  ketika kalian berdua belajar untuk tes yang sama.

14. Berpikiran positif

Menurut ahli kesehatan Harvard, stereotipe negatif tentang penuaan membuat daya ingat menurun. Jadi orang tua menghasilkan nilai yang tes daya ingat yang buruk ketika dihadapkan pada pernyataan pesimis tentang usia dan kekuatan otak — dan lebih baik ketika mendengar pesan untuk menjaga daya ingat tetap kuat hingga pensiun.

15. Gunakan seluruh inderamu

Makin banyak indera yang anda  gunakan ketika mengalami suatu kejadian, semakin mudah Anda mengingatnya nanti. Contoh, penciuman bisa secara cepat mengembalikan kenangan masa lalu. Jadi mulailah mengendus.

16. Catat

Gambar atau tulislah informasi yang ingin diingat.

17. Pengulangan

Ketika anda ingin mengingat hal baru, ulangi dengan keras. Contohnya jika anda baru diberitahu nama seseorang, panggil nama mereka ketika berbicara dengan orang tersebut.

18. Tantang dirimu sendiri

Beraktivitas memerlukan konsentrasi. Bergabunglah dengan klub membaca, teka-teki silang atau mencoba resep masakan baru. Kegiatan apapun yang menggunakan otak akan menolong anda  untuk menjaga bakat hingga tua nanti.

19. Tulis, jangan ketik

Jari Anda mungkin akan kikuk menggunakan alat tulis ketika sudah terbiasa mengetik, namun menulis dengan tangan dapat membuat otak memproses informasi dengan lebih baik. Jadi ketika belajar hal yang baru, tulislah.

20. Meditasi / Sholat yang khusu’

Penelitian AS menunjukkan, pengobatan harian mempertebal bagian otak cerebral cortex, yang bertanggungjawab membuat keputusan, perhatian dan daya ingat. Cobalah melakukan teknik fokus pada sebuah gambar, suara atau napas Anda sendiri.

Doa Belajar untuk Hafalan dan Kecerdasan

0

Do'a Belajar untuk Hafalan dan Kecerdasan

Ya Allah berilah aku kemampuan memahami seperti para Nabi,
kemampuan menghafal seperti para Rasul.
Serta berilah kami ilham seperti para Malaikat yang senantiasa dekat kepada-Mu.
Nabi Sulaiman telah dikaruniai kemampuan memahami segala sesuatu,
telah dibekali kebijaksanaan dan ilmu pengetahuan.
Demikianlah Allah membalas orang yang senantiasa berbuat baik.


Bagaimana Riba Bekerja Merusak Perekonomian Masyarakat?

0

Bagaimana Riba Bekerja Merusak Perekonomian Masyarakat?

Sebagian besar pemahaman masyarakat hanya terdorong sebagai seorang muslim yang mengetahui bahwa di dalam Al-Quran dan Al-Hadis banyak menyebutkan larangan riba, namun tidak diikuti pemahaman akan makna, hikmah dan kajian empirisnya secara dalam, luas dan komprehensif. Akibatnya saat mereka dihadapkan pada pilihan produk riba atau non riba, mereka akan secepat kilat beralih haluan, dari dorongan pengetahuan agama menjadi dorongan paradigma ekonomi praktis. Tidak dilakukan langkah penyesuaian dan antisipasi untuk menghindari riba, baik oleh pemerintah apalagi anggauta masyarakat, tapi yang terjadi adalah melakukan pilihan berdasarkan pertimbangan ekonomi praktis, mana harga yang lebih murah dengan fasilitas dan layanan yang lebih banyak. Itulah yang dilakukan mayoritas muslim di seluruh dunia.  Padahal riba secara umum sebenarnya juga dilarang oleh semua kitab suci dan agama.

Jika riba dilihat dari aspek transaksi ekonomi individual maka tidak mudah terlihat sebagai sebuah konstruksi yang bersifat destruktif terhadap perekonomian. Alasan yang biasa digunakan sebagai pembenaran adalah riba dilakukan suka sama suka, bunga yang dikenakan kecil tidak tinggi seperti rentenir dan pasar secara global menerima dengan baik sistem ribawi tersebut. Padahal hampir semua keputusan pelaku ekonomi di dunia berbasis kepentingan individu/golongan/kelompok. Pendidikan ekonomi pada masyarakat dunia selama ratusan tahun lebih berbasis pada prinsip ekonomi tersebut.  Pada kenyataannya ekonomi merupakan mata rantai, yang membentuk sebuah sistem, dimana masing-masing rantai kegiatan tersebut saling memberi pengaruh dan tidak bisa berdiri sendiri. Semua variabel dalam sistem ekonomi saling berinteraksi dan berkolerasi, langsung maupun tidak langsung, sehingga semua unsur dan variabel ekonomi tersebut akan memberi implikasi secara kolektif.

Konstruksi riba yang bersifat destruktif yang dimaksud di atas merupakan hasil dari mekanisme transmisi baik di sektor moneter maupun riil. Berikut penjelasannya secara garis besar.

Ketika suku bunga ditetapkan oleh bank sentral, maka pengaruhnya baik secara real time maupun time lag, akan segera terjadi, baik pada sektor moneter maupun riil. Kebijakan secara  umum yang berlaku di dunia adalah bank sentral akan menaikan suku bunga saat terjadi peningkatan angka inflasi, hal itu dimaksudkan agar terjadi penurunan angka inflasi, namun dampak dari kebijakan tersebut akan membuat dunia usaha mengalami penurunan karena harga modal melalui suku bunga kredit menjadi mahal.  Penurunan dunia usaha akan menyebabkan berkurangnya lapangan kerja. Berkurangnya lapangan kerja tentu akan menimbulkan banyak PHK dan menaikkan angka pengangguran, yang selanjutnya diikuti naiknya angka kemiskinan dimana daya beli masyarakat akan menurun sehingga menyebabkan pasar atau kegiatan ekonomi menjadi lesu. Dan memang pada siklus selanjutnya akan diikuti penurunan angka inflasi.  Pada saat angka inflasi mulai terkendali, bank sentral  kembali menurunkan suku bunga yang mendorong dunia usaha kembali meningkatkan aktivitasnya. Dalam proses selanjutnya inflasi kembali terjadi karena banyaknya uang beredar melebihi jumlah barang dan jasa yang diproduksi dunia usaha. Dan mekanisme yang berujung pada naiknya angka pengangguran dan kemiskinan kembali terjadi.

Terlihat pada penjelasan di atas bahwa sistem ribawi bersifat menghambat sektor riil dengan adanya harga modal melalui suku bunga kredit. Dalam ekonomi Islam, menu utama perekonomian adalah sektor riil atau dunia usaha, sedangkan sektor moneter hanya sebagai pendukung.

Berkembangnya sektor riil akan lebih mudah diakses oleh seluruh level dan golongan masyarakat. Baik dalam penyediaan lapangan kerja maupun distribusi pendapatan akan terjadi lebih proposional dan adil. Namun pada perekonomian dunia saat ini, sektor moneter menguasai hampir 10 kali lipat lebih besar dibandingkan sektor riil, khususnya yang terjadi di negara-negara barat. Hal itu menjadi pemicu utama terjadinya kesenjangan distribusi pendapatan, kekayaan menumpuk hanya pada segelintir anggauta masyarakat, dan makin sulitnya ketersediaan lapangan kerja karena sektor riil jauh tertinggal dari sektor moneter.

Dari penjelasan tersebut juga jelas terlihat pada ekonomi ribawi ketidakstabilan adalah siklus yang akan terus terjadi berulang. Dan pada periode tertentu akumulasi ketidakstabilan tersebut akan pecah menjadi krisis ekonomi yang kita kenal. Kohesi yang tidak kuat dalam persenyawaan sektor riil dan moneter akan melahirkan bubble economic sebagaimana banyak dijelaskan oleh para ekonom barat. Mengapa demikian, berikut ini akan dijelaskan lebih lanjut.

Rasulullah Muhammad Saw, Khulafaur Rasyidin, para ekonom Islam dan para ekonom barat sekalipun sebenarnya secara tegas menyatakan bahwa uang hanya bisa diciptakan dengan berbasis emas/perak atau komoditas yang memiliki nilai setara. Demikian pula pertumbuhan uang hanya bisa terjadi jika ada aktivitas riil berupa produksi barang dan jasa (underlying asset) , yang dalam Islam melalui kegiatan jual beli, sewa menyewa atau sistem upah dan bagi hasil usaha. Jika uang tumbuh tanpa adanya underlying asset, seperti sistem riba, maka pertambahan uang tersebut jelas tidak ada dalam sistem. Akibatnya adalah selalu pasti akan terjadi gagal bayar dan pemindahan kepemilikan aset.
Pemindahan kepemilikan aset bisa terjadi secara tidak adil karena ada uang yang lebih banyak dari sistem riil yang ada, atau dengan kata lain pertambahan uang sebenarnya secara riil tidak ada dalam sistem. Lalu dengan apa pengusaha mengambil alih kekayaan/kepemilikan aset tersebut? Transfer kepemilikan dan kekayaan tersebut dibayar dengan inflasi secara agregat/nasional/global. Ilustrasi sederhananya adalah sebagai berikut:

Ketika masyarakat berbondong-bondong menyimpan uangnya di bank, bank tersebut akhirnya mendapatkan dana pihak ketiga dari masyarakat. Lalu datanglah pengusaha yang mendapat pinjaman dari bank tersebut. Uang hasil pinjaman bank tersebut oleh pengusaha bisa untuk membeli tanah/lahan masyarakat yang merupakan pemilik dana di bank tersebut. Masyarakat terpaksa menjual tanah/lahan tersebut pada pengusaha karena angka inflasi yang terus bergerak naik yang berakibat menurunkan daya beli secara signifikan.

Jadi masyarakat yang semula bermaksud menyimpan dananya di bank supaya berkembang, namun pada periode selanjutnya masyarakat harus menghadapi inflasi yang dipicu oleh sistem bunga perbankan. Adanya akumulasi inflasi tersebut akan membuat aset individu masyarakat lambat laun berpindah kepemilikan sebagaimana ilustrasi tersebut di atas.

Di atas sudah dijelaskan bahwa uang hasil riba tidak tersedia dalam sistem. Padahal bentuk dan jenis riba sangatlah bervariasi , tidak hanya berupa sistem bunga. Riba juga diantaranya terdapat dalam aktivitas spekulasi/judi, gharar/ketidakjelasan transaksi, fiat money/sistem uang kertas, Fractional Reserve Banking. Lalu pertambahan uang yang seperti apa yang terdapat dalam sistem? Secara verbal, sudah dijelaskan, bahwa uang yang bisa diciptakan dalam sistem adalah yang berbasis underlying asset, atau one unit monetary for one unit real asset. Irving Fisher telah merumuskannya dalam teori kuantitas uang, MV=PT. Persamaan tersebut menegaskan bahwa jumlah uang dan perputarannya harus seimbang dengan banyaknya nilai transaksi barang dan jasa dalam aktivitas perekonomian.

Harus diakui pada pembangunan ekonomi selama ini telah terjadi kesalahan struktural dan misalokasi sumber daya akibat instrumen suku bunga dan sistem riba pada umumnya yang menguasai dunia saat ini. Berbagai gangguan ekonomi yang sifatnya jangka pendek, menengah maupun jangka panjang akan terus terakumulasi dan secara nyata menurunkan kualitas kehidupan pada seluruh aspek kehidupan manusia. Meningkatnya kualitas dan kuantitas angka pengangguran, kemiskinan, kriminalitas dan kerusakan lingkungan berbanding lurus dengan usia dan jangkauan kinerja riba di berbagai sektor ekonomi.

Berikut ini salah 1 ayat dan hadist tentang Riba.
•  QS. Al-Baqarah 275: “Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Rabbnya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. Dan barang siapa yang mengulangi (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya”.

•  Nabi Muhammad shallahu ‘alahi wasallam mengancam pelaku riba dengan lebih tegas, beliau bersabda, “Dosa riba memiliki 73 pintu, dan yang paling ringan adalah seperti seseorang berzina dengan ibu kandungnya sendiri.” (HR.Ibnu Majah).

Tulisan yang singkat ini tentulah baru secara garis besar menjelaskan mengapa Islam melarang keras riba. Jika semakin banyak pihak regulator dan masyarakat memahami secara cermat mekanisme transmisi riba yang bersifat destruktif terhadap perekonomian, maka tidak akan terjadi ambiguitas antara pengetahuan agama yang sudah jelas akan larangan riba dan saat dihadapkan pada pilihan-pilihan bertransaksi dan mengatur regulasi di lapangan. Wallahua’lam Bi Shawab.

Asal Muasal Riba & Utang Sebagai Senjata

0

INTI dari sistem kerja imperialisme kuno dan modern sesungguhnya terletak pada sistem perbankan ribawi. Dalam dunia ekonomi, Karl Marx dianggap sebagai orang yang pertama kali “menemukan” hal ini dalam teori nilai lebihnya (surplus-value). Namun jika kita melihat lebih jauh, sistem riba sesungguhnya diciptakan oleh Ksatria Kuil (Knights Templar) dengan lembaga simpan-pinjam pertama di dunia yang disebut “Usury”. Ini adalah istilah bahasa Inggris untuk menyebut “Riba”.



Ketika Yerusalem jatuh ke tangan pasukan Salib di akhir abad 11 Masehi, sejak itu pula sepanjang tahun ribuan orang kaya Eropa berbondong-bondong melakukan perjalanan ziarah ke Yerusalem lewat jalur darat dan laut. Awalnya, mereka selalu membawa harta bendanya dalam perjalanan panjang itu. Dengan sendirinya, resiko yang dipikul pun sangatlah besar karena mengundang para kriminalis untuk melakukan perampokan di tengah jalan.

Sembilan Ksatria Templar yang dipimpin Hugues de Payens menghadap Raja Yerusalem dan meminta agar mereka diberi kewenangan untuk mengamankan dan mengelola peziarah tersebut. Izinpun diberikan. Setelah mempelajari kenyataan di lapangan, di mana banyak orang-orang kaya yang hendak berziarah ke Yerusalem namun direpotkan oleh harta benda mereka, maka celah ini dimanfaatkan oleh Ksatria Templar untuk mendirikan sebuah badan yang sangat mirip dengan cara kerja perbankan modern.

Mereka membuka diri untuk menampung dan menjaga harta benda orang-orang kaya Eropa yang hendak pergi berziarah ke Yerusalem. Jadi, para peziarah itu tidak perlu repot-repot dan menempuh segala resikonya untuk membawa banyak barang berharga saat pergi ke Yerusalem. Selama bepergian, seluruh harta benda miliknya bisa disimpan di lembaga yang didirikan para Ksatria Templar yang bernama Usury (berarti riba, atau juga sangat mungkin Usury ini dikemudian hari diadopsi oleh bank-bank modern menjadi Treasury atau tempat penyimpanan benda-benda berharga).

Selain itu, selama bepergian, para peziarah tersebut juga diberi selembar kertas promis yang bertuliskan kode-kode yang begitu rumit, hingga hanya pihak-pihak tertentu saja yang dapat membacanya. Kertas promis ini berisi nilai nominal tertentu dari harta yang disimpan di lembaga keuangan Ksatria Templar di Eropa, dan setibanya mereka di Yerusalem kertas promis ini bisa diuangkan di lembaga keuangan Templar setempat. Kertas promis tersebut merupakan cikal bakal sistem cek tunai yang kita kenal sekarang.

Selain itu, ‘bank’ Templar juga membuka diri dengan menyelenggarakan pengaturan pengiriman uang (transfer) yang aman bagi para pedagang Eropa. Harta yang dimiliki lembaganya kemudian diputar kembali dengan membuka jasa simpan pinjam. Para pedagang dan bangsawan, termasuk para raja, bisa meminjam kepada Templar sejumlah besar uang dan mengembalikan dengan mencicil atau tunai pada saat yang disepakati. Ini tentu saja dengan suku bunga yang rendah. Dengan sendirinya Ksatria Templar tidak saja dikenal sebagai ordo militer yang tangguh dalam Perang Salib, tapi juga dikenal sebagai pelopor sistem perbankan modern yang masih dipakai hingga sekarang. Dan yang jelas, Ksatria Templar menjadi organisasi yang sangat besar, profesional, dan berpengaruh.

Markas Templar di selatan Perancis menjadi rumah penghimpunan harta terbesar di Eropa dan Timur Tengah. Salah satu raja yang berhubungan erat dengan para Templar adalah King Henry II dari Inggris. Tiap tahun, Henry II menyumbang uang untuk menanggung kebutuhan hidup hidup sekitar limabelas ribu ksatria dan tentara Salib yang berada di Yerusalem. Dari keseluruhan lembaga yang didirikan Templar di Eropa dan juga Timur Tengah, setidaknya mereka memperkerjakan enam sampai delapan ribu pegawai yang ditugasi untuk mengurus ‘sistem perbankan’ mereka. Templar juga memiliki harta yang tersebar di seluruh Eropa dan Timur Tengah, mereka antara lain memiliki sembilan ratusan istana, kastil, kuil, rumah-rumah para bangsawan, dan sebagainya.

Kemajuan yang sangat pesat yang terjadi pada ordo ini menimbulkan kesombongan dan kecongkakan yang tidak disukai oleh masyarakat Eropa, terlebih-lebih para raja, kaum bangsawan, dan juga pemuka gereja yang merasa kewibawaannya digerogoti pengaruh Templar yang terus menunjukkan perkembangan yang cepat. Di Eropa kala itu, nama Knights Templar sungguh-sungguh unik. Ia dipuja sekaligus dibenci, dihormati sekaligus dicaci-maki. Yang jelas, banyak kawan namun banyak pula musuh.

Kekayaan Templar menjadikan mereka berkuasa atas banyak raja dan bangsawan. Templar bisa menekan dan mengatur semua kebijakan kerajaan dari dalam istana. Bahkan Raja Perancis, Philip Le Bel IV berutang banyak pada Templar dan dihinakan oleh mereka. Le Bel ditolak mentah-mentah untuk masuk menjadi anggota ordo. Philip Le Bel marah dan berhasil menggandeng Paus yang menyebabkan Templar dibasmi dari seluruh Eropa pada 13 Oktober 1937 dengan tudingan telah melakukan penghinaan terhadap Gereja.

Templar secara resmi membubarkan diri dan membentuk Freemasonry di Skotlandia yang kemudian mendirikan Illuminaty hanya beberapa tahun sebelum Revolusi Perancis pecah. Mereka terus bekerja di balik layar, menguasai lembaga-lembaga keuangan internasional untuk kepentingan cita-citanya seperti yang ditorehkan dalam lambang negara AS: Novus Ordo Seclorum. IMF, World Bank, G-20, G-8, dan sebagainya merupakan institusi yang diciptakan untuk melayani kepentingan mereka.