Thursday, July 14, 2016

Bagaimana Riba Bekerja Merusak Perekonomian Masyarakat?

Bagaimana Riba Bekerja Merusak Perekonomian Masyarakat?

Sebagian besar pemahaman masyarakat hanya terdorong sebagai seorang muslim yang mengetahui bahwa di dalam Al-Quran dan Al-Hadis banyak menyebutkan larangan riba, namun tidak diikuti pemahaman akan makna, hikmah dan kajian empirisnya secara dalam, luas dan komprehensif. Akibatnya saat mereka dihadapkan pada pilihan produk riba atau non riba, mereka akan secepat kilat beralih haluan, dari dorongan pengetahuan agama menjadi dorongan paradigma ekonomi praktis. Tidak dilakukan langkah penyesuaian dan antisipasi untuk menghindari riba, baik oleh pemerintah apalagi anggauta masyarakat, tapi yang terjadi adalah melakukan pilihan berdasarkan pertimbangan ekonomi praktis, mana harga yang lebih murah dengan fasilitas dan layanan yang lebih banyak. Itulah yang dilakukan mayoritas muslim di seluruh dunia.  Padahal riba secara umum sebenarnya juga dilarang oleh semua kitab suci dan agama.

Jika riba dilihat dari aspek transaksi ekonomi individual maka tidak mudah terlihat sebagai sebuah konstruksi yang bersifat destruktif terhadap perekonomian. Alasan yang biasa digunakan sebagai pembenaran adalah riba dilakukan suka sama suka, bunga yang dikenakan kecil tidak tinggi seperti rentenir dan pasar secara global menerima dengan baik sistem ribawi tersebut. Padahal hampir semua keputusan pelaku ekonomi di dunia berbasis kepentingan individu/golongan/kelompok. Pendidikan ekonomi pada masyarakat dunia selama ratusan tahun lebih berbasis pada prinsip ekonomi tersebut.  Pada kenyataannya ekonomi merupakan mata rantai, yang membentuk sebuah sistem, dimana masing-masing rantai kegiatan tersebut saling memberi pengaruh dan tidak bisa berdiri sendiri. Semua variabel dalam sistem ekonomi saling berinteraksi dan berkolerasi, langsung maupun tidak langsung, sehingga semua unsur dan variabel ekonomi tersebut akan memberi implikasi secara kolektif.

Konstruksi riba yang bersifat destruktif yang dimaksud di atas merupakan hasil dari mekanisme transmisi baik di sektor moneter maupun riil. Berikut penjelasannya secara garis besar.

Ketika suku bunga ditetapkan oleh bank sentral, maka pengaruhnya baik secara real time maupun time lag, akan segera terjadi, baik pada sektor moneter maupun riil. Kebijakan secara  umum yang berlaku di dunia adalah bank sentral akan menaikan suku bunga saat terjadi peningkatan angka inflasi, hal itu dimaksudkan agar terjadi penurunan angka inflasi, namun dampak dari kebijakan tersebut akan membuat dunia usaha mengalami penurunan karena harga modal melalui suku bunga kredit menjadi mahal.  Penurunan dunia usaha akan menyebabkan berkurangnya lapangan kerja. Berkurangnya lapangan kerja tentu akan menimbulkan banyak PHK dan menaikkan angka pengangguran, yang selanjutnya diikuti naiknya angka kemiskinan dimana daya beli masyarakat akan menurun sehingga menyebabkan pasar atau kegiatan ekonomi menjadi lesu. Dan memang pada siklus selanjutnya akan diikuti penurunan angka inflasi.  Pada saat angka inflasi mulai terkendali, bank sentral  kembali menurunkan suku bunga yang mendorong dunia usaha kembali meningkatkan aktivitasnya. Dalam proses selanjutnya inflasi kembali terjadi karena banyaknya uang beredar melebihi jumlah barang dan jasa yang diproduksi dunia usaha. Dan mekanisme yang berujung pada naiknya angka pengangguran dan kemiskinan kembali terjadi.

Terlihat pada penjelasan di atas bahwa sistem ribawi bersifat menghambat sektor riil dengan adanya harga modal melalui suku bunga kredit. Dalam ekonomi Islam, menu utama perekonomian adalah sektor riil atau dunia usaha, sedangkan sektor moneter hanya sebagai pendukung.

Berkembangnya sektor riil akan lebih mudah diakses oleh seluruh level dan golongan masyarakat. Baik dalam penyediaan lapangan kerja maupun distribusi pendapatan akan terjadi lebih proposional dan adil. Namun pada perekonomian dunia saat ini, sektor moneter menguasai hampir 10 kali lipat lebih besar dibandingkan sektor riil, khususnya yang terjadi di negara-negara barat. Hal itu menjadi pemicu utama terjadinya kesenjangan distribusi pendapatan, kekayaan menumpuk hanya pada segelintir anggauta masyarakat, dan makin sulitnya ketersediaan lapangan kerja karena sektor riil jauh tertinggal dari sektor moneter.

Dari penjelasan tersebut juga jelas terlihat pada ekonomi ribawi ketidakstabilan adalah siklus yang akan terus terjadi berulang. Dan pada periode tertentu akumulasi ketidakstabilan tersebut akan pecah menjadi krisis ekonomi yang kita kenal. Kohesi yang tidak kuat dalam persenyawaan sektor riil dan moneter akan melahirkan bubble economic sebagaimana banyak dijelaskan oleh para ekonom barat. Mengapa demikian, berikut ini akan dijelaskan lebih lanjut.

Rasulullah Muhammad Saw, Khulafaur Rasyidin, para ekonom Islam dan para ekonom barat sekalipun sebenarnya secara tegas menyatakan bahwa uang hanya bisa diciptakan dengan berbasis emas/perak atau komoditas yang memiliki nilai setara. Demikian pula pertumbuhan uang hanya bisa terjadi jika ada aktivitas riil berupa produksi barang dan jasa (underlying asset) , yang dalam Islam melalui kegiatan jual beli, sewa menyewa atau sistem upah dan bagi hasil usaha. Jika uang tumbuh tanpa adanya underlying asset, seperti sistem riba, maka pertambahan uang tersebut jelas tidak ada dalam sistem. Akibatnya adalah selalu pasti akan terjadi gagal bayar dan pemindahan kepemilikan aset.
Pemindahan kepemilikan aset bisa terjadi secara tidak adil karena ada uang yang lebih banyak dari sistem riil yang ada, atau dengan kata lain pertambahan uang sebenarnya secara riil tidak ada dalam sistem. Lalu dengan apa pengusaha mengambil alih kekayaan/kepemilikan aset tersebut? Transfer kepemilikan dan kekayaan tersebut dibayar dengan inflasi secara agregat/nasional/global. Ilustrasi sederhananya adalah sebagai berikut:

Ketika masyarakat berbondong-bondong menyimpan uangnya di bank, bank tersebut akhirnya mendapatkan dana pihak ketiga dari masyarakat. Lalu datanglah pengusaha yang mendapat pinjaman dari bank tersebut. Uang hasil pinjaman bank tersebut oleh pengusaha bisa untuk membeli tanah/lahan masyarakat yang merupakan pemilik dana di bank tersebut. Masyarakat terpaksa menjual tanah/lahan tersebut pada pengusaha karena angka inflasi yang terus bergerak naik yang berakibat menurunkan daya beli secara signifikan.

Jadi masyarakat yang semula bermaksud menyimpan dananya di bank supaya berkembang, namun pada periode selanjutnya masyarakat harus menghadapi inflasi yang dipicu oleh sistem bunga perbankan. Adanya akumulasi inflasi tersebut akan membuat aset individu masyarakat lambat laun berpindah kepemilikan sebagaimana ilustrasi tersebut di atas.

Di atas sudah dijelaskan bahwa uang hasil riba tidak tersedia dalam sistem. Padahal bentuk dan jenis riba sangatlah bervariasi , tidak hanya berupa sistem bunga. Riba juga diantaranya terdapat dalam aktivitas spekulasi/judi, gharar/ketidakjelasan transaksi, fiat money/sistem uang kertas, Fractional Reserve Banking. Lalu pertambahan uang yang seperti apa yang terdapat dalam sistem? Secara verbal, sudah dijelaskan, bahwa uang yang bisa diciptakan dalam sistem adalah yang berbasis underlying asset, atau one unit monetary for one unit real asset. Irving Fisher telah merumuskannya dalam teori kuantitas uang, MV=PT. Persamaan tersebut menegaskan bahwa jumlah uang dan perputarannya harus seimbang dengan banyaknya nilai transaksi barang dan jasa dalam aktivitas perekonomian.

Harus diakui pada pembangunan ekonomi selama ini telah terjadi kesalahan struktural dan misalokasi sumber daya akibat instrumen suku bunga dan sistem riba pada umumnya yang menguasai dunia saat ini. Berbagai gangguan ekonomi yang sifatnya jangka pendek, menengah maupun jangka panjang akan terus terakumulasi dan secara nyata menurunkan kualitas kehidupan pada seluruh aspek kehidupan manusia. Meningkatnya kualitas dan kuantitas angka pengangguran, kemiskinan, kriminalitas dan kerusakan lingkungan berbanding lurus dengan usia dan jangkauan kinerja riba di berbagai sektor ekonomi.

Berikut ini salah 1 ayat dan hadist tentang Riba.
•  QS. Al-Baqarah 275: “Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Rabbnya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. Dan barang siapa yang mengulangi (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya”.

•  Nabi Muhammad shallahu ‘alahi wasallam mengancam pelaku riba dengan lebih tegas, beliau bersabda, “Dosa riba memiliki 73 pintu, dan yang paling ringan adalah seperti seseorang berzina dengan ibu kandungnya sendiri.” (HR.Ibnu Majah).

Tulisan yang singkat ini tentulah baru secara garis besar menjelaskan mengapa Islam melarang keras riba. Jika semakin banyak pihak regulator dan masyarakat memahami secara cermat mekanisme transmisi riba yang bersifat destruktif terhadap perekonomian, maka tidak akan terjadi ambiguitas antara pengetahuan agama yang sudah jelas akan larangan riba dan saat dihadapkan pada pilihan-pilihan bertransaksi dan mengatur regulasi di lapangan. Wallahua’lam Bi Shawab.

Nur Islama Diena

Author & Editor

Has laoreet percipitur ad. Vide interesset in mei, no his legimus verterem. Et nostrum imperdiet appellantur usu, mnesarchum referrentur id vim.

0 comments:

Post a Comment